23
May
09

NANGGROE ACEH DARUSSALAM, Dua Aras Dominasi, Pusat dan Lokal

di Capture dari Harian Kompas, Rabu 20 Mei 2009 yang ditulis oleh: Bambang Setiawan

NAD Partai Demokrat menjadi kekuatan baru yang sangat dominan menguasai peta politik Aceh, seusai digelarnya Pemilu Legislatif 2009. Demokrat tampaknya menjadi satu-satunya partai yang mendapat limpahan keuntungan dari hasil rekonsiliasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Republik Indonesia. Di sini persentase suara yang diraih Partai Demokrat dua kali lipat dari persentase pada tingkat nasional. Demokrat meraih 40,87 persen diseluruh wilayah Aceh yang meliputi dua daerah pemilihan. Sebagai pembanding, suara yang diperoleh partai ini di tingkat nasional adalah 20,85 persen.

     Suara yang diraih Partai Demokrat tidak hanya jauh melampaui persentase nasional, tetapi juga mencatat rekor dengan mendulang lebih dari enam kali lipat dari suara pemilu sebelumnya. dalam Pemilu 2004, Demokrat hanya meraih 6,11 persen suara.

     Dengan raihan suara yang dicapai Partai Demokrat, partai ini menjadi satu-satunya partai yang bercokol di papan atas. Partai Golkar, yang pada pemilu sebelumnya menang dengan meraih 16,19 persen, kini merosot drastis menjadi 10,53 persen, tak terpaut jauh dari perolehan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang meraih 7,08 persen.

    Partai-partai papan atas di Aceh yang bergeser turun peringkat ke papan menengah, selain Golkar, adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Kalau sebelumnya papan atas ditempati ketiga partai tersebut, yang menguasai 19 dari 21 wilayah kabupaten/kota, kini mereka harus menerima kenyataan redupnya pengaruh mereka. Bahkan, dari 23 kabupaten/kota, Golkar hanya mampu mempertahankan kemenangan di dua daerah saja, yaitu Kabupaten Gayo Lues dan Aceh Tenggara. Selebihnya, 21 daerah dikuasai oleh Partai Demokrat. Posisi ini membuat dari sisi geopolitik nyaris tidak ada perimbangan kekuatan yang berarti, baik dari sisi kekuatan partai maupun ideologi. Warna nasionalis menjadi sangat dominan dibandingkan dengan dua pemilu sebelumnya.

    Bagaimanapun, pertumbuhan yang pesat dari kekuatan partai berlambang berlian segitiga ini tak bisa dilepaskan dari konteks perundingan Pemerintah RI dan GAM yang menelurkan nota kesepahaman (MOU) damai Helsinki. Sebelumnya, perundingan yang dijalin sejak tahun 2000 hingga 2003 nyaris tidak menghasilkan kesepakatan. Baru setelah bencana tsunami menghantam Aceh pada akhir 2004, terjadi perundingan kembali yang akhirnya menghasilkan nota kesepahaman pada 15 Agustus 2005. Nota itu diantaranya menyepakati soal pembentukan partai politik lokal di Aceh. Pemerintahan yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono pun menuai berkah, dan dampaknya terlihat pada naik tajamnya suara Partai Demokrat yang dibinanya. Sungguhpun dalam perundingan tersebut peran Wakil Presidien RI Jusuf Kalla, yang menjadi Ketua Umum Partai Golkar, tampak menonjol, tetapi logika pemilu ternyata justru menyisihkan Golkar dari tampuk penguasa wilayah.

    Berdasarkan hasil penghitungan Litbang Kompas ataupun Centre for Electoral Reform (Cetro), Partai Demokrat mendapatkan enam kursi dari 13 kursi di dua dapil (NAD I dan NAD II). Sisa kursi diraih PPP, Golkar, dan PKS, masing-masing dua kursi, serta PAN satu kursi. Kursi yang diraih Demokrat meningkat tiga kali lipat dibandingkan pada pemilu sebelumnya yang hanya dua kursi. Adapun Partai Bulan Bintang Reformasi, yang sebelumnya masing-masing mendapatkan satu dan dua kursi, kini tak lagi diperhitungkan dalam pembagian kursi karena tidak lolos ambang batas parlemen (parliamentary threshold). Dua nama yang sebelumnya menjadi anggota DPR dari dapil Aceh, yaitu Muhammad Nasir Djamil dari PKS dan Mirwan Amir dari Demokrat, diperkirakan kembali menduduki kursi legislatif, sementara sisanya berganti wajah baru.

Partai Lokal

    Bagi-bagi kue kekuasaan antar partai pemerintah dan partai lokal Aceh seakan menjadi gambaran yang nyata atas terbentuknya kompromi perdamaian. Kalau pada pemilu nasional partai pemerintah menang dalam pertarungan, pada pemilu lokal yang memperebutkan kursi Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), salah satu partai lokal mendominasi perolehan kursi. Partai Aceh (PA) yang didukung mantan kombatan GAM memperoleh 1.007.173 suara atau 46,93 persen. Peringkat kedua diraih Partai Demokrat dengan selisih yang cukup jauh. Partai Demokrat meraih 10,84 persen dan di urutan ketiga Partai Golongan Karya (6,64 persen), disusul PAN (3,87 persen), dan PKS (3,45 persen) suara.

    Dengan komposisi seperti itu, tak heran kalau kemudian Partai Aceh meraih 33 dari 69 kursi DPRA. Sisa kursi terbagi ke dalam 11 partai. Partai Demokrat meraih 10 kursi, Gokar 8 kursi, PAN 5 kursi, PKS 4 kursi, dan PPP 3 kursi. Partai nasional lain yang mendapat kusi adalah PKPI, PDI-P, Partai Patriot, PKB, dan PBB, yang masing-masing satu kursi. Adapun partai lokal lain yang juga mendapatkan satu kursi adalah Partai Daulat Aceh (PDA). Dengan demikian, hanya ada dua partai lokal Aceh yang memiliki wakil di DPRA.

    Konfigurasi kekuatan politik yang terjadi dalam pemilu lokal di Aceh telah mengubah sama sekali penguasaan partai-partai politik sebelumnya. Dalam Pemilu 2004, Partai Golkar dan sejumlah partai Islam menguasai parlemen lokal. Golkar dan PPP masing-masing mendapat 12 kursi. Sisanya diraih PAN (9 kursi), selanjutnya PBB, PBR, dan PKS (masing-masing 8 kursi), Demokrat 6 kursi, PDI-P 2 kursi, PPNUI 2 kursi, serta PKB dan PKPI masing-masing satu kursi.

    Naiknya pamor Partai Aceh dalam satu putaran pemilu memang menunjukkan besarnya harapan yang diberikan oleh masyarakat kepada perjuangan meraih kemandirian. Namun, besarnya kepercayaan masyarakat Aceh kepada Partai Demokrat, di sisi lain, juga mengisyaratkan bahwa kemandirian sebaiknya tetap dibungkus dalam kerangka kesatuan nasional.


0 Responses to “NANGGROE ACEH DARUSSALAM, Dua Aras Dominasi, Pusat dan Lokal”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: