24
May
09

SUMATERA UTARA, Wajah Baru di Basis Nasionalis

Dicapture dari Kompas, Jumat 22 Mei 2009 yang ditulis oleh: MG Retno Setyowati

Sumatera Utara Keragaman suku bangsa yang tercermin dalam pengelompokan berdasar agama dan wilayah permukiman terlihat cukup nyata pula pengaruhnya dalam kehidupan sosial politik masyarakat Sumatera Utara. Implikasi paling nyata terlihat dalam pergeseran komposisi penguasa politik di wilayah Sumut sepanjang penyelenggaraan pemilu di wilayah ini. Secara umum, kekuatan partai berbasis massa nasionalis cenderung lebih menguasai wilayah ini meskipun pada Pemilu 1955 secara urutan dimenangkan partai Islam, Masyumi.

     Dalam era Orde Baru, wilayah ini tercatat menjadi salah satu lumbung Golkar, nyaris tidak ada kabupaten ataupun kota yang mampu direbut PDI maupun PPP. Catatan menunjukkan, hingga kini banyak tokoh Golkar yang menjadi petinggi berasal dari wilayah tersebut.

    Era reformasi yang diikuti penyelenggaraan Pemilu 1999 cenderung menjadi titik balik bangkitnya kembali kekuatan berciri politik identitas kedaerahan. Wilayah-wilayah yang dulunya pada Pemilu 1955 merupakan kantong wilayah “merah” kembali menemukan oase politiknya. Menguatnya kekuatan nasionalis terlihat dari kemenangan PDI-P yang mampu meraih suara terbanyak (39,7 persen) pada Pemilu 1999. Panen suara PDI-P itu didapat terutama dari wilayah bagian utara, timur, dan barat Sumut, Karo, Toba Samosir, Simalungun, serta Nias. Wilayah-wilayah itu merupakan wilayah kantong suara Parkindo dan PNI. Sebagian besar masyarakat wilayah ini beragama Kristen, baik Protestan maupun Katolik.

     Berbeda dengan meroketnya PDI-P, pamor politik Partai Golkar – yang sebelumnya (1971-1997) selalu meraih suara terbanyak – merosot tajam hanya meraih 21,8 persen. Di sisi lain, partai yang bercorak Islam, baik yang mengusung ideologi Islam maupun yang mempunyai basis massa tradisional Islam, perolehan suaranya tak lebih dari 10 persen. Perolehan suara mereka didapat terutama dari wilayah selatan Sumut, seperti Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan Padangsidimpuan yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

    Kalah dalam Pemilu 1999 tak membuat Golkar beringsut. Sebaliknya, konsolidasi tokoh-tokoh partai ini, yang sebagian berasal dari Sumatera Utara, terbukti membuat Partai Golkar kembali memimpin pada Pemilu 2004. Dari 25 kabupaten dan kota se-Sumut, Golkar berhasil menguasai 18 kabupaten dan kota. Kemampuan Golkar menembus sekat-sekat agama dan suku dengan ideologi dan wajah “baru” membuatnya mampu merebut suara di wilayah yang dimenangi PDI-P pada pemilu sebelumnya. Sementara itu, PDI-P hanya mampu mempertahankan perolehan suaranya di wilayah yang merupakan basis fanatik kaum nasionalis sejak Pemilu 1955, yaitu Nias Barat, Tapanuli Utara, Karo, dan Deli Serdang.

    Saat ini, hasil Pemilu Legislatif 2009 menunjukkan kondisi peta politik Sumut kembali berubah. Perubahan dramatis terjadi dengan munculnya Partai Demokrat sebagai kekuatan baru yang mendominasi percaturan politik di Sumut. Partai yang mengusung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut berhasil menguasai 21 kabupaten dan kota dengan raihan suara sekitar 36 persen yang meliputi tiga daerah pemilihan. Partai Golkar hanya meraup 16 persen suara di tempat kedua, berimpit dengan PDI-P yang meraih 14 persen di tempat ketiga.

    Jika mengacu pada hasil simulasi anggota DPR perkiraan Litbang Kompas, komposisi kemenangan Partai Demokrat diperkirakan bakal menghasilkan 10 kursi dari 30 kursi DPR yang diperebutkan untuk wilayah ini. Sisa kursi diraih PDI-P (4 kursi), Golkar (5 kursi), PKS dan PAN (masing-masing 3 kursi), PPP dan Hanura (2 kursi). Modal politik dimana perolehan kursi Partai demokrat meningkat hampir empat kali lipat dibandingkan dengan pemilu sebelumnya, bakal menjadi sebuah lembaran baru wajah nasionalisme di wilayah ini.

Wakil Rakyat

    Dari hasil simulasi perhitungan, tampak hanya nama Abdul Wahab Dalimunthe dari Dapil Sumut 1 yang mampu menembus angka bilangan pembagi pemilih (BPP) dengan perolehan suara 192.716. Caleg Partai Demokrat ini memperoleh banyak dukungan dari pemilih di Kota Medan. Dukungan suara dari kota ini juga banyak didulang Presiden PKS Tifatul Sembiring, yang meraup 99.348 suara. Politisi senior PDI-P, Panda Nababan, diperkirakan juga bakal lolos ke Senayan setelah meraup dukungan pemilih Medan dengan meraup 76.773 suara.

    Beberapa nama populer juga dipilih dari wilayah ini, termasuk Ketua Bappilu Golkar Burhanuddin Napitupulu dan kader Partai Demokrat yang juga pengacara, Ruhut Sitompul. Pengacara eksentrik yang semula dikenal sebagai kader Partai Golkar dan kini beralih ke Demokrat ini diperkirakan bakal menembus Senayan setelah banyak mendulang suara di Langkat. Adapun “Bang Burnap” diperkirakan lolos ke Senayan dengan dukungan suara terbesar dari Deli Serdang, sebanyak 47.121 suara.

    Selain itu, kursi wakil rakyat Sumut, baik di DPR maupun DPD, tampaknya masih lebih banyak diwakili kaum Adam. Dominasi laki-laki tetap mewarnai sosok wakil rakyat Sumut dalam Pemilu Legislatif 2009 meskipun kini dari 30 anggota DPR dari Dapil Sumut diperkirakan ada satu perempuan. Sri Novida, kader Partai Demokrat dari Dapil Sumut I, diperkirakan bakal mewarnai komposisi wakil rakyat Sumut kali ini. Kondisi ini sedikit lebih maju daripada pemilu sebelumnya yang tak menempatkan satu perempuan pun menduduki kursi wakil rakyat.

    Selain itu, beberapa nama tokoh politik yang merupakan “wajah lama” diperkirakan juga bakal masih menjadi wakil rakyat dari wilayah ini. PDI-P yang meraih 4 kursi diperkirakan tiga kursi diantaranya diraih oleh anggota DPR periode sebelumnya, yaitu Panda Nababan, Trimedya Panjaitan, dan Yassona H Laoy. Sementara PKS yang mendapat tiga kursi, salah satu caleg terpilihnya merupakan anggota DPR periode sebelumnya, yaitu Ansory Siregar. Partai lainnya yang mendapat kursi, seperti PAN, Hanura, dan Gerindra, menampilkan wajah-wajah baru, kecuali Nurdin Tampubolon dari Hanura yang sebelumnya adalah anggota DPD periode 2004-2009 dari Sumatera Utara.

    Dilihat dari latar belakang profesi dan tingkat pendidikan, wakil rakyat dari Provinsi Sumut cenderung didominasi oleh swasta dan politisi yang berpendidikan S-1 dan S-2. Akan tetapi, ada pula mantan Pangdam I Bukit Barisan yang juga kandidat Gubernur Sumut Tri Tamtono, yang kemungkinan besar lolos ke Senayan melalui PDI-P.


1 Response to “SUMATERA UTARA, Wajah Baru di Basis Nasionalis”


  1. 1 Sanjaya
    May 29, 2009 at 8:48 pm

    Salut buat sri novida yg lolos dari dapil 1 yg prestisius, lbh bgs lg klo dimuat siapa dia, sbg motor inspirasi kaum perempuan. Thx


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: