01
Jun
09

RIAU, Benteng Beringin Tanah Melayu

Technorati Tags: ,,

Dicapture dari Kompas, Senin 25 Mei 2009 yang ditulis oleh Endang Suprapti

Peta Riau Gelombang dinamika pilihan politik yang terjadi di kawasan Sumatera bagian Utara dan tengah tidak dengan sendirinya memengaruhi pilihan politik di bumi Riau. Kultur politik pemilih Riau yang tampak berpilin antara kekuasaan politik dan nilai tradisi Melayu cenderung membuat lembam perubahan, tetap loyal pada pilihan sebelumnya.

Hasil Pemilu Legislatif 2009 sekali lagi membuktikan loyalitas publik Riau kepada partai beringin. Delapan kabupaten yang ada di provinsi ini, mulai dari kawasan bagian utara, wialayah barat, hingga wilayah selatan, direbut kembali oleh Partai Golkar.

Golkar meraih dominasi pemilih di beberapa basis konstituen di Indragiri Hilir, Kampar, Kuantan Singingi, Rokan Hilir, Pelalawan, dan Indragiri Hulu. Popularitas dan mesin politik Partai Demokrat, yang di kawasan lain bisa merombak peta kemenangan, di bumi Melayu baru berhasil “menyusup” di tiga daerah, yaitu Kota Dumai, Kota Pekanbaru, dan Siak.

Proporsi kemenangan Golkar di provinsi ini mencapai 32,96 persen jumlah suara, terpaut 12 persen dari total perolehan suara Partai Demokrat.

Relatif lambatnya corak perubahan pilihan politik di kawasan ini sebenarnya merupakan respons alamiah publik Riau yang sudah terlihat sejak perolehan suara pada perjalanan pemilu sejak tahun 1955. Data menunjukkan, pada pemilu pertama tahun 1955, kawasan ini merupakan wilayah, “hijau” yang dimenangi partai-partai Islam-Masyumi, Perti, dan NU secara mutlak.

Komposisi kekuatan ketiga partai tersebut sudah mencakup 80,9 persen suara. Perlahan tetapi pasti, sejak Pemilu 1971 kultur politik Golkar dimasukkan ke dalam budaya politik Riau dan “berasimilasi” dengan kultur Melayu yang menjadi sendi tata nilai di wilayah ini.

Paham politik Golkar memasuki ranah Melayu melalui jaringan birokrasi, tokoh panutan adat melayu, hingga panutan agama di tengah situasi psikologis masyarakat yang cenderung “apolitis” serta tidak konfrontatif dalam afiliasi politik.

Hal ini terlihat berhasil dengan berangsur-angsurnya penguasaan dominasi politik Golkar yang tecermin dari perolehan suara dengan tidak menang mutlak pada awalnya. Bahkan, pada Pemilu 1977, kemenangan Golkar hanya terpaut tipis dengan suara PPP yang saat itu memiliki patron tokoh intelektual Melayu yang kritis, Buya Hamka.

image

Raihan suara yang berangsur-angsur mendominasi pilihan politik warga Riau akhirnya menjadikan loyalitas kepada Golkar seakan sesuatu yang “alamiah” bagi masyarakat Melayu kawasan ini. Posisi suara Golkar selepas masa transisi selalu teratas dengan perolehan suara antara 70 dan 80 persen, bahkan Pemilu 1997 tercatat 85 persen suara.

Di tengah kultur loyalitas kepada Partai Golkar yang demikian tidak menafikan pamor politik partai kuat lainnya, seperti PDI-P, yang sempat merebut wilayah di kawasan utara-timur pada Pemilu 1999. Populasi pemilih tradisional partai nasionalis, seperti warga keturunan Tinghoa, memang banyak terdapat di kawasan itu.

Namun, dinamika perolehan suara juga menunjukkan, bahkan dalam situasi politik tahun 1999 pun, secara provinsi, Partai Golkar masih dapat mempertahankan posisinya di urutan pertama dengan perolehan 30,1 persen suara. Di sisin lain, partai-partai bercorak keislaman tampaknya belum mampu mengembalikan kejayaannya seperti yang terjadi tahun 1955. Dalam hal ini, kemampuan Golkar mengidentifikasikan sosoknya dan beradaptasi dengan corak Islam-Melayu tampaknya membuat peluang kecondongan politik makin sempit bagi parpol Islam.

Meski demikian, dua pemilu terakhir juga menunjukkan mulai bangkitnya pamor partai Islam dengan kehadiran PKS, yang dengan penempatan sosok parpol “bersih”, mulai meraih simpati memadai di wilayah perkotaan, terutama dari ibu kota Pekanbaru.

Berdasarkan hasil rekapitulasi pengjitungan suara nasional sementara yang dilakukan Komisi Pemiluhan Umum, Riau akan mendapat 11 kursi dari dua dapil (Riau I dan Riau II). Hasil simulasi perolehan suara sementara memperlihatkan, kemungkinan Golkar meraih 3 kursi, Demokrat 2 kursi, PDI-P 2 kursi serta PKS, PAN, dan PKB masing-masing 1 kursi.

Wajah DPR dan DPD

Wajah-wajah baru diperkirakan bakal mendominasi caleg yang lolos ke DPR mewakili Riau. Dari 11 calon anggota DPR yang diperkirakan lolos, sepuluh nama merupakan wajah baru di DPR. Hanya satu wakil dari PKS, Chairul Anwar, yang kemungkinan besar kembali lolos ke Senayan mewakili Riau. Jika pola seleksi memakai penghitungan sisa suara terbesar di setiap dapil (versi “pansus”), diperkirakan nama M Lukman Edy yang masih tercatat sebagai menteri juga bakal lolos ke Senayan dari PKB.

Dari sisi latar belakang, pendidikan wajah wakil rakyat dari dapil Riau tampaknya bakal lebih setara.

Apabila periode sebelumnya pendidikan akhir 11 orang terentang dari SMA hingga S-3, kini didominasi sarjana S-1 dan tiga orang S-2. Adapun dari aspek profesi, corak latar belakang pekerjaan anggota Dewan yang baru relatif sama dengan sebelumnya, yakni didominasi oleh kalangan pekerja swasta (6 orang) dan sisanya merupakan anggota lembaga legislatif dan satu orang menteri kabinet.

Selain itu, dari 11 calon wakil rakyat, tercatat hanya tiga nama – dua dari Gokar dan seorang dari Demokrat – yang beralamat di wilayah Riau, selebihnya di Jakarta, Depok, dan seorang beralamat di Batam.

Salah satu perbedaan yang cukup kelihatan daripada periode sebelumnya adalah faktor usia wakil rakyat Riau yang rata-rata lebih muda. Usia tertinggi anggota DPR sebelumnya adalah 70 tahun, kini 60 tahun dan didominasi oleh usia awal 40-an.

Berbeda dengan wajah DPR yang berubah, wakil rakyat dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD) periode 2009-2014 Riau separuhnya diisi  wajah lama dan kebetulan keduanya perempuan. Dua anggota DPD periode saat ini, Intsiawati Ayus dan Maimanah Umar, diperkirakan bakal lolos ke Senayan dengan masing-masing meraih 144.559 suara dan 121.832 suara.

Dari empat kursi DPD yang berhak mewakili daerah ini, suara terbanyak diraih oleh Abdul Gafar Usman dengan perolehan 172.961 suara.

Sebagaimana pola hasil penghitungan pemilu sebelumnya, perolehan anggota DPD ini juga jauh lebih tinggi daripada perolehan suara terbesar yang diraup anggota DPR. Perolehan tertinggi calon anggota DPR diraih oleh Idris Laena dari Partai Golkar dengan 96.521 suara. Itulah gambaran kekuatan politik yang bakal membawa aspirasi publik Riau ke kancah nasional dalam periode lima tahun mendatang.


0 Responses to “RIAU, Benteng Beringin Tanah Melayu”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: