Archive for the 'Hasil Pemilu Legislatif 2009' Category

20
Jun
09

NUSA TENGGARA BARAT, Babak baru Penguasaan Politik

Dicapture dari Kompas, edisi Jumat 19 Juni 2009 yang ditulis oleh Ratna Sri Widyastuti

Nusa Tenggara Barat Sejalan dengan runtuhnya pamor politik partai-partai lama di Nusa Tanggara Barat, penguasaan kaum ulama dan bangsawan pun meredup dalam ajang kontestasi politik nasional. Dimana mereka kini berkiprah?

Persaingan dalam perebutan posisi kepemimpinan politik antara dua kelompok berpengaruh, kaum ulama dan bangsawan, seakan telah mentradisi di Busa Tengagra Barat (NTB). Dalam berbagai ajang kontestasi politik nasional pun dinamika politik semacam ini telah terlihat, bahkan semenjak Pemilu 1955 digelar.

Di Lombok, salah satu pulau besar di NTB yang memiliki jumlah penduduk terpadat, kiprah ulama karismatis, seperti Tuan Guru Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, sangat menonjol dalam perpolitikan. Saat Pemilu 1955 berlangsung, dia telah terlibat dalam pemenangan Masyumi di NTB. Begitu pun dalam periode selanjutnya, dengan berbaju politik Golkar, Tuan Guru berperan dalam kesuksesan beringin di wilayah yang amat kental dengan ciri keislaman ini. Setelah dia wafat di akhir tahun 1997, para keturunan dan pengikutnya tetap mewairis kiprah Tuan Guru dalam perpolitikan.

Continue reading ‘NUSA TENGGARA BARAT, Babak baru Penguasaan Politik’

Advertisements
01
Jun
09

RIAU, Benteng Beringin Tanah Melayu

Technorati Tags: ,,

Dicapture dari Kompas, Senin 25 Mei 2009 yang ditulis oleh Endang Suprapti

Peta Riau Gelombang dinamika pilihan politik yang terjadi di kawasan Sumatera bagian Utara dan tengah tidak dengan sendirinya memengaruhi pilihan politik di bumi Riau. Kultur politik pemilih Riau yang tampak berpilin antara kekuasaan politik dan nilai tradisi Melayu cenderung membuat lembam perubahan, tetap loyal pada pilihan sebelumnya.

Hasil Pemilu Legislatif 2009 sekali lagi membuktikan loyalitas publik Riau kepada partai beringin. Delapan kabupaten yang ada di provinsi ini, mulai dari kawasan bagian utara, wialayah barat, hingga wilayah selatan, direbut kembali oleh Partai Golkar.

Golkar meraih dominasi pemilih di beberapa basis konstituen di Indragiri Hilir, Kampar, Kuantan Singingi, Rokan Hilir, Pelalawan, dan Indragiri Hulu. Popularitas dan mesin politik Partai Demokrat, yang di kawasan lain bisa merombak peta kemenangan, di bumi Melayu baru berhasil “menyusup” di tiga daerah, yaitu Kota Dumai, Kota Pekanbaru, dan Siak.

Proporsi kemenangan Golkar di provinsi ini mencapai 32,96 persen jumlah suara, terpaut 12 persen dari total perolehan suara Partai Demokrat.

Relatif lambatnya corak perubahan pilihan politik di kawasan ini sebenarnya merupakan respons alamiah publik Riau yang sudah terlihat sejak perolehan suara pada perjalanan pemilu sejak tahun 1955. Data menunjukkan, pada pemilu pertama tahun 1955, kawasan ini merupakan wilayah, “hijau” yang dimenangi partai-partai Islam-Masyumi, Perti, dan NU secara mutlak. Continue reading ‘RIAU, Benteng Beringin Tanah Melayu’

30
May
09

SUMATERA BARAT, Ranah yang Selalu Berubah

Dicapture dari Harian Kompas, 23 Mei 2009 yang ditulis oleh: Ignatius Kristanto dan Yoga Prasetyo

Sumatera Barat Kultur politk masyarakat di ranah Minang tergolong unik. Meskipun karakteristik warganya termasuk homogen dari latar belakang suku dan agamanya, dari sisi pilihan politiknya selalu berubah. Hasil pemilu legislatif lalu menunjukkan hal itu. Partai Demokrat berhasil menguasai provinsi ini yang pada pemilu-pemilu sebelumnya menjadi basis peolehan kursi Golkar.

     Perubahan pilihan politik ini dapat dilihat dari hasil pemilu legislatif selama ini. Jika pada Pemilu 1955, wilayah ini dikuasai oleh partai Islam, Masyumi, pada saat rezim penguasa berganti, partai yang dominan pun berganti. Tercatat, tanah Minang dikuasai Golkar yang berkuasa dari era Orde Baru, era reformasi, hingga Pemilu 2004.

     Naiknya popularitas Partai Demokrat pada Pemilu 2009 mengubah dominasi itu. Partai Demokrat mampu meraih kemenangan dengan 27 persen suara. Bahkan, partai yang mengusung Susilo Bambang Yudhoyono untuk dicalonkan kembali sebagai presiden ini mampu menguasai 10 dari 19 kabupaten dan kota yang ada.

Continue reading ‘SUMATERA BARAT, Ranah yang Selalu Berubah’

24
May
09

SUMATERA UTARA, Wajah Baru di Basis Nasionalis

Dicapture dari Kompas, Jumat 22 Mei 2009 yang ditulis oleh: MG Retno Setyowati

Sumatera Utara Keragaman suku bangsa yang tercermin dalam pengelompokan berdasar agama dan wilayah permukiman terlihat cukup nyata pula pengaruhnya dalam kehidupan sosial politik masyarakat Sumatera Utara. Implikasi paling nyata terlihat dalam pergeseran komposisi penguasa politik di wilayah Sumut sepanjang penyelenggaraan pemilu di wilayah ini. Secara umum, kekuatan partai berbasis massa nasionalis cenderung lebih menguasai wilayah ini meskipun pada Pemilu 1955 secara urutan dimenangkan partai Islam, Masyumi.

     Dalam era Orde Baru, wilayah ini tercatat menjadi salah satu lumbung Golkar, nyaris tidak ada kabupaten ataupun kota yang mampu direbut PDI maupun PPP. Catatan menunjukkan, hingga kini banyak tokoh Golkar yang menjadi petinggi berasal dari wilayah tersebut.

    Era reformasi yang diikuti penyelenggaraan Pemilu 1999 cenderung menjadi titik balik bangkitnya kembali kekuatan berciri politik identitas kedaerahan. Wilayah-wilayah yang dulunya pada Pemilu 1955 merupakan kantong wilayah “merah” kembali menemukan oase politiknya. Menguatnya kekuatan nasionalis terlihat dari kemenangan PDI-P yang mampu meraih suara terbanyak (39,7 persen) pada Pemilu 1999. Panen suara PDI-P itu didapat terutama dari wilayah bagian utara, timur, dan barat Sumut, Karo, Toba Samosir, Simalungun, serta Nias. Wilayah-wilayah itu merupakan wilayah kantong suara Parkindo dan PNI. Sebagian besar masyarakat wilayah ini beragama Kristen, baik Protestan maupun Katolik.

Continue reading ‘SUMATERA UTARA, Wajah Baru di Basis Nasionalis’

23
May
09

NANGGROE ACEH DARUSSALAM, Dua Aras Dominasi, Pusat dan Lokal

di Capture dari Harian Kompas, Rabu 20 Mei 2009 yang ditulis oleh: Bambang Setiawan

NAD Partai Demokrat menjadi kekuatan baru yang sangat dominan menguasai peta politik Aceh, seusai digelarnya Pemilu Legislatif 2009. Demokrat tampaknya menjadi satu-satunya partai yang mendapat limpahan keuntungan dari hasil rekonsiliasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Republik Indonesia. Di sini persentase suara yang diraih Partai Demokrat dua kali lipat dari persentase pada tingkat nasional. Demokrat meraih 40,87 persen diseluruh wilayah Aceh yang meliputi dua daerah pemilihan. Sebagai pembanding, suara yang diperoleh partai ini di tingkat nasional adalah 20,85 persen.

     Suara yang diraih Partai Demokrat tidak hanya jauh melampaui persentase nasional, tetapi juga mencatat rekor dengan mendulang lebih dari enam kali lipat dari suara pemilu sebelumnya. dalam Pemilu 2004, Demokrat hanya meraih 6,11 persen suara.

     Dengan raihan suara yang dicapai Partai Demokrat, partai ini menjadi satu-satunya partai yang bercokol di papan atas. Partai Golkar, yang pada pemilu sebelumnya menang dengan meraih 16,19 persen, kini merosot drastis menjadi 10,53 persen, tak terpaut jauh dari perolehan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang meraih 7,08 persen.

Continue reading ‘NANGGROE ACEH DARUSSALAM, Dua Aras Dominasi, Pusat dan Lokal’